seekor elang sedang mencari mangsanya dari kejauhan
matanya yang tajam dengan pengelihatan seolah menusuk seekor kelinci abu-abu
yang sedang asik bermain.
kelinci itu lucu sekali
bulunya yang tidak putih dan tidak hitam menjadikannya anggun
tak terlihat kotor, sangat bersih.
kelinci lompat dengan kaki mungilnya
suara kecilnya riang, menebarkan cerita kalau ia sedang senang hari ini
di kejauhan
diatas batang pohon meranti
elang tengah waspada tetap menanti
menunggu waktu yang tepat menyantap mangsanya
beberapa saat
waktu itu telah datang
tanpa pikir panjang
elang terbang menyambar kelinci abu-abu
kaki bercakar itu kuat menggenggam
kelinci kini ada di udara
terbang bersama cakar elang yang lapar
kelinci berontak
“uh..uh..tolong!!!”
“tolong..!!!”
“Diam..!!!”bentak elang
“tapi,kenapa harus aku?”tanya kelinci
“karena Tuhan mengirimku rezeki dan aku telah menjemputnya”
“ini takdirmu kelinci,terimalah”jawab elang
“apa karena takdir,maka pembunuhan dihalalkan?”tanya kelinci lagi
“ini bukan pembunuhan, ini hanya memenuhi kebutuhan”elang membela diri
“kau rela, tubuhmu bisa hidup, dengan membuat yang lain menjadi tidak hidup”
kelinci mengajukan alasan
“diamlah kelinci, karena kau juga telah merusak beberapa tanaman, wartel dan sayuran”
“kau juga sama, jangan sok suci”suara elang kesal
“coba kau bayangkan kalau anak-anakmu dimangsa dan mati”
“kau tidak kasihan dengan mereka”kata kelinci
“tentu aku kasihan”
“tapi maaf kelinci, karena aku tak ingin anak-anakku mati, maka aku memangsa”
“harus ada yang berkorban dan dikorbankan dalam rantai makanan ini”
elang menegasakan